Kambing Etawa: Si Lincah dari Lereng Pegunungan yang Bikin Kagum
Kalau kamu pernah lewat di daerah pegunungan, terutama di sekitar Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah, mungkin kamu pernah melihat kambing bertubuh besar dengan telinga panjang menjuntai dan gaya jalan yang santai tapi elegan. Itulah kambing Etawa, hewan yang bukan cuma terkenal karena susunya yang berkualitas, tapi juga karena penampilannya yang… jujur aja, agak menggemaskan.
Saya ingat pertama kali melihat kambing Etawa di sebuah peternakan di daerah Wonosari, sekitar tahun 2017. Waktu itu pagi-pagi, udara masih dingin dan agak berembun. Seekor Etawa jantan besar menatap saya dengan tatapan “apa-lihat-lihat?” sementara telinganya bergoyang pelan tertiup angin. Lucunya, kambing itu malah maju dan mencoba mengendus sepatu saya. Saat itu saya cuma bisa tertawa kecil. Si besar ini ternyata ramah juga.
Asal Usul: Dari India ke Lereng Menoreh
Banyak orang mengira Etawa asli Indonesia, padahal aslinya kambing ini berasal dari India bagian utara, tepatnya daerah bernama Etawah — ya, nama daerah itu yang kemudian jadi nama rasnya. Dulu, sekitar awal abad ke-20, pemerintah Hindia Belanda membawa beberapa ekor kambing Etawa ke Indonesia untuk dikembangkan sebagai penghasil susu.
Nah, karena Indonesia punya banyak daerah pegunungan dengan iklim sejuk, kambing Etawa pun cepat beradaptasi. Daerah Kaligesing di Purworejo jadi salah satu tempat paling sukses membudidayakannya. Hasil persilangan antara Etawa asli India dan kambing lokal Indonesia melahirkan jenis baru yang disebut Peranakan Etawa (PE). Jenis inilah yang paling banyak kamu lihat sekarang.
Penampilan yang “Ganteng” (dan Sedikit Anggun)
Kalau kamu perhatikan, kambing Etawa itu unik banget. Tingginya bisa mencapai 120 cm untuk jantan dan sekitar 90 cm untuk betina. Bobotnya pun nggak main-main — bisa sampai 100 kilogram lebih untuk jantan dewasa. Bayangkan, hampir seberat manusia!
Bulu Etawa biasanya berwarna cokelat muda, hitam, atau putih, kadang kombinasi dua warna. Telinganya panjang, bisa sampai 30 cm, dan menggantung ke bawah seperti pita. Dahi mereka sedikit menonjol, hidung melengkung ke bawah, dan lehernya panjang berotot. Kalau berjalan pelan, ada kesan anggun — tapi kalau sedang makan daun pisang, semua kesan elegan itu langsung hilang begitu saja. Hehe.
Saya pernah iseng berdiri di dekat Etawa jantan waktu dia lagi makan. Suaranya keras, kayak orang sedang mengunyah kerupuk. “Krak… krak…”, dan baunya campuran antara rumput segar dan tanah basah. Entah kenapa, saya justru merasa tenang mendengarnya.
Susu Etawa: Putih, Gurih, dan Katanya Bisa Bikin Awet Muda?
Oke, ini bagian yang paling banyak dicari orang: susu kambing Etawa. Warnanya putih bersih, agak kental, dan rasanya sedikit gurih. Saya pernah coba minum segelas di rumah seorang peternak di Magelang. Awalnya ragu, takut amis. Tapi ternyata… rasanya lembut banget, bahkan lebih ringan daripada susu sapi. Jujur, saya kaget.
Menurut penelitian, susu Etawa punya kandungan gizi tinggi: protein sekitar 3,3%, lemak 4,5%, kalsium tinggi, dan laktosa lebih rendah dari susu sapi. Karena itu, banyak orang yang alergi susu sapi bisa tetap minum susu Etawa tanpa masalah. Beberapa bahkan percaya susu ini bisa bantu menjaga stamina, memperbaiki kulit, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Entah sugesti atau tidak, tapi setelah seminggu rutin minum, badan saya memang terasa lebih segar.
Yang menarik, aroma susu Etawa bisa berubah tergantung pakan. Kalau dikasih rumput segar dari lereng gunung, susunya berbau wangi lembut seperti daun kering. Tapi kalau pakannya kurang baik, kadang ada aroma agak “tajam”. Ini sebabnya peternak Etawa yang berpengalaman sangat perhatian pada kualitas makanan ternaknya.
Perawatan: Tidak Sesulit yang Dibayangkan
Banyak yang mengira memelihara Etawa itu ribet. Padahal, kalau sudah tahu caranya, relatif mudah. Yang penting: kandang bersih, pakan segar, dan jadwal teratur.
Kandang sebaiknya tinggi dari tanah, biar kotoran bisa jatuh ke bawah dan tidak menumpuk. Saya sempat bantu teman yang punya kandang kecil di Temanggung, dan tiap pagi kami bersihkan kandang pakai sekop kecil. Bau? Ya, sedikit. Tapi setelah seminggu terbiasa, malah terasa “biasa aja”.
Etawa makanannya sederhana: rumput gajah, daun turi, singkong, dan kadang ditambah bekatul atau ampas tahu. Mereka juga suka minum air bersih yang agak banyak. Seekor kambing bisa habiskan 6–8 liter air per hari, apalagi kalau cuaca panas.
Lucunya, Etawa punya kebiasaan unik — mereka suka dielus di bagian leher atau belakang telinga. Kalau kamu perlakukan dengan lembut, mereka bisa jadi manja. Ada satu betina di peternakan teman saya yang tiap kali saya datang, langsung nyundul pelan ke arah kaki, seperti minta disapa.
Harga yang Fantastis (dan Kadang Tak Masuk Akal)
Jangan salah, Etawa bukan kambing biasa. Harga satu ekor Etawa super bisa mencapai puluhan juta rupiah, bahkan ada yang menembus seratus juta untuk kontes. Tentu ini bukan sembarang kambing — biasanya punya bentuk tubuh sempurna, telinga panjang simetris, dan bulu halus berkilau.
Saya pernah datang ke Kontes Kambing Etawa Nasional di Purworejo tahun 2022. Rasanya seperti nonton ajang kecantikan versi hewan. Para peternak datang dengan bangga membawa “jagoan” mereka, disisir rapi, dipoles minyak kelapa biar mengilap. Satu peternak, Pak Darto dari Kaligesing, bahkan bilang, “Kalau Etawa saya ini kalah, saya nggak tidur seminggu!” Saya cuma bisa tertawa — tapi juga kagum melihat seberapa besar cinta orang-orang terhadap hewan ini.
Manfaat Ekonomi: Dari Susu, Daging, hingga Wisata
Etawa bukan cuma soal keindahan atau gengsi. Bagi banyak peternak di pedesaan, kambing ini adalah sumber penghidupan utama. Susu Etawa dijual sekitar Rp50.000–70.000 per liter, sementara kotorannya bisa jadi pupuk organik yang laku keras.
Selain itu, banyak peternakan yang mengembangkan wisata edukasi Etawa. Di sana pengunjung bisa belajar memerah susu, memberi makan, dan melihat proses pemeliharaan. Anak-anak biasanya senang banget — apalagi kalau bisa foto bareng kambing yang tingginya hampir seukuran mereka.
Di satu sisi, kambing Etawa membantu ekonomi desa tumbuh. Di sisi lain, ia jadi sarana edukasi dan kebanggaan lokal. Saya pernah dengar seorang guru SD di Purworejo bilang, “Anak-anak sini kalau ditanya cita-cita, ada yang bilang mau jadi peternak Etawa. Bangga katanya.”
Tantangan: Penyakit dan Perubahan Cuaca
Meski kuat, kambing Etawa juga punya kelemahan. Mereka sensitif terhadap perubahan cuaca ekstrem. Kalau suhu terlalu dingin dan kandang lembap, bisa kena penyakit kulit atau cacingan. Beberapa juga rentan pada penyakit seperti mastitis (radang ambing pada kambing betina).
Peternak harus rajin memandikan kambing, menjaga kebersihan, dan memberi vitamin tambahan. Kadang, peternak tradisional masih percaya cara lama: air garam dan daun pepaya untuk mengusir parasit. Aneh, tapi… sering kali berhasil.
Saya sendiri pernah bantu memandikan seekor Etawa yang kotor setelah hujan. Airnya dingin, kambingnya sempat berontak, tapi begitu disiram lembut, dia malah diam dan seolah menikmati. Setelah itu bulunya tampak lebih halus, dan jujur, saya juga merasa puas melihat hasilnya.
Cerita dari Lapangan: Si “Bule” yang Bikin Heboh
Salah satu cerita lucu yang saya dengar datang dari seorang peternak di Kulon Progo. Katanya, dia pernah punya seekor Etawa berwarna putih bersih, yang oleh warga sekitar dijuluki “Bule”. Suatu hari, kambing itu lepas dari kandang dan jalan santai ke pasar. Orang-orang panik, dikira kambing kontes mahal kabur. Pas akhirnya ketemu, kambing itu sedang makan sayur di depan kios. Semua orang ketawa, dan sejak itu “Bule” jadi semacam selebritas kampung.
Cerita seperti ini mungkin terdengar remeh, tapi justru di situlah pesonanya. Kambing Etawa bukan cuma hewan ternak; mereka punya karakter, punya cerita, dan kadang bikin kita sadar bahwa hewan juga bisa jadi bagian dari kehidupan sosial manusia.
Refleksi Pribadi: Belajar dari Seekor Kambing
Entah kenapa, setiap kali melihat kambing Etawa, saya merasa belajar tentang kesabaran dan ketenangan. Mereka nggak pernah terburu-buru, selalu tampak menikmati hidupnya — makan perlahan, berjalan santai, dan menatap dunia seolah tak ada yang perlu dikejar.
Ada satu sore di Kaligesing, saya duduk di dekat kandang sambil minum kopi hitam. Seekor Etawa betina berdiri di dekat pagar, melihat saya lama sekali. Angin sore membawa aroma rumput segar dan suara jangkrik dari kejauhan. Saat itu saya berpikir, “Mungkin hidup yang ideal itu sederhana seperti ini. Makan cukup, istirahat cukup, dan tenang.”
Bukan pelajaran besar, tapi entah kenapa, rasanya dalam sekali.
Penutup: Bukan Sekadar Kambing
Kambing Etawa mungkin cuma hewan bagi sebagian orang. Tapi bagi para peternak, bagi pecinta hewan, atau bagi siapa pun yang pernah duduk diam menatap matanya yang lembut, Etawa adalah simbol ketekunan. Ia tidak hanya bertahan, tapi juga beradaptasi dan memberi manfaat.
Dari segelas susu hangat di pagi hari, dari kotoran yang menyuburkan tanah, dari senyum anak kecil yang memberi makan daun pisang — semuanya adalah bukti bahwa Etawa bukan sekadar kambing. Ia adalah bagian dari cerita manusia di pedesaan, cerita yang hangat dan nyata.
Dan mungkin, lain kali kamu melihat seekor kambing bertelinga panjang berjalan pelan di pinggir jalan, jangan buru-buru lewat. Berhenti sebentar. Lihat matanya. Siapa tahu kamu akan melihat ketenangan yang sama seperti yang saya temukan di lereng gunung beberapa tahun lalu.

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home